Sederet artis apresiasi puisi Fadli Zon

Wakill Ketua DPR RI Fadli Zon menandatangani poster buku antologi puisinya, usai sarasehan budaya dan peluncuran bukunya, di Jakarta, Senin (8/4/2019) (Zuhdiar Laeis)

Jakarta (ANTARA) – Sederet artis mengapresiasi puisi karya Fadli Zon dengan membacakannya secara bergantian pada “Antologi Puisi Politik Fadli Zon dan Sarasehan Budaya” di Restoran Al Jazeerah Polonia, Jakarta, Senin malam.

Artis yang hadir, antara lain Tio Pakusadewo, Neno Warisman, Camelia Malik, Evie Tamala, Fauzi Baadila, Fitria Elvy Sukaesih, Ustaz Derry Sulaeman, hingga pelawak Komeng yang berkesempatan membacakan puisi karya Wakil Ketua DPR RI itu.

Kebanyakan artis mengaku baru pertama kalinya membaca puisi, seperti pedangdut Camelia Malik yang mengungkapkan sebuah kehormatan bisa membacakan puisi karya Fadli Zon.

“Enggak pernah baca puisi. Biasanya, ‘jreng’ langsung joged. Jadi, ini kehormatan bagi saya mencoba baca puisi,” kata penyanyi kelahiran Jakarta, 22 April 1955 yang membaca puisi berjudul “Air Mata Buaya”.

Demikian pula, diungkapkan pedangdut Evie Tamala yang memilih puisi berjudul “Sajak Tentang Boneka” yang ditulis Fadli Zon pada 3 April 2014.

Giliran Ustaz Derry Sulaiman membacakan puisi “Ketika Bendera Kau Bakar” yang ditulis Fadli Zon di sela memimpin delegasi parlemen Indonesia dalam pada G20 Summit, Buenos Aires, Argentina, 2 November 2018.

Tak ketinggalan, aktor gaek Tio Pakusadewo yang melanjutkan apresiasinya dengan menyanyikan lagu bersama Neno Warisman, sebagai hadiah untuk Sukartini Silitonga Djojohadikusumo, bibi Prabowo Subianto yang juga hadir pada kesempatan itu.

Tio juga menghadiahkan lukisan sketsa karyanya kepada Fadli Zon, sebagai apresiasi terhadap politikus Partai Gerindra itu yang dinilainya mencintai kebudayaan.

Sementara itu, Fadli Zon mengatakan kegiatan itu merupakan sarasehan budaya, sekaligus peluncuran buku antologi puisinya yang keempat berjudul “Ada Genderuwo di Istana”.

“Ini antologi puisi saya yang keempat sebenarnya. Pertama, saya pernah nulis berjudul ‘Mimpi-mimpi yang Kupelihara’, ‘Air Mata Buaya’, kemudian ‘Memeluk Waktu’. Sekarang ini, ‘Ada Genderuwo di Istana’,” ungkapnya.

Diakui Fadli, sebagian puisi karyanya terkait kondisi ekonomi dan politik sekarang ini tersebut sempat viral dan ada sebagian lagi yang dinyanyikan oleh sahabat-sahabatnya, seperti Ahmad Dhani dan Sang Alang.

“Ada 25 puisi kalau tidak salah. Untuk mendokumentasikan berbagai peristiwa saya kira. Puisi kan memotret peristiwa, sejarah, orang, berbagai macam dinamika. Bagian dari perjalanan yang saya mengikutinya dari dekat,” katanya.

Tampak pula pada kesempatan itu, pendiri Teater Tanah Air Jose Rizal Manua, budayawan Betawi Ridwan Saidi, penulis Linda Djalil yang juga mantan wartawati, sastrawan asal Tasikmalaya Bode Riswandi, dan Peri Sandi.

Sejumlah tokoh politik juga hadir, seperti Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah, mantan Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak, dan politikus senior Dipo Alam.

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2019