Fahri: Garbi muncul atas kegelisahan kolektif

Gorontalo (ANTARA News) – Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah mengemukakan kemunculan Gerakan Arah Baru Indonesia (Garbi) di berbagai daerah merupakan bentuk kegelisahan kolektif atas kondisi bangsa Indonesia saat ini.

Kegelisahan tersebut menurut dia dalam hal krisis pemahaman konstitusi, demokrasi dan reformasi.

“Selain itu kegelisahan karena para pemimpin tidak memiliki pengetahuan yang cukup arti demokrasi dan transisi,” kata Fahri usai menghadiri deklarasi Garbi chapter Gorontalo di Gorontalo, Minggu.

Dia mencontohkan krisis kelembagaan yang terjadi selama ini karena negara kurang mampu mengatasi masalah yang berulang-ulang terjadi.

Fahri mengatakan, isu korupsi, narkoba dan terorisme sudah 20 tahun, Indonesia belum keluar dari isu tersebut namun hal itu terkait kapasitas negara dalam menyelesaikannya.

“Masalah-masalah tersebut berulang-ulang terjadi dalam 20 tahun kita belum bisa keluar dari isu korupsi, terorisme dan narkoba,” ujarnya.

Selain itu dia menilai krisis kepemimpinan nasional juga menjadi hal yang disoroti karena Indonesia membutuhkan pemimpin yang memiliki kemampuan memadai bagi kebangkitan rakyat.

Menurut dia, Indonesia memiliki pekerjaan rumah dalam mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain khususnya terkait pendapatan perkapita karena saat ini masih rendah.

“Kita ingin Indonesia keluar dari transisi, terbang bagai rajawali melanglang buana mencakar bumi sehingga menjadi bangsa besar seperti negara lain yang pendapatan perkapitanya jauh dari kita,” katanya.

Selain itu, Fahri enggan menjelaskan terkait kemungkinan Garbi menjadi sebuah partai politik yang ikut kontestasi pemilu di Indonesia karena perlu mendengar pendapat para anggotanya.

Namun dia menilai harus ada organisasi yang berpikir dan menjadi tempat para intelektual berkumpul seperti Garbi yang digagasnya.

“Yang jelas harus ada organisasi yang berpikir dan mengumpulkan banyak intelektual karena Indonesia hadir karena pemikiran bukan infrastruktur dan jembatan,” katanya.

Pewarta: Imam Budilaksono
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2019